MEMBONGKAR KONSTRUKSI PIKIRAN ARIEL HERYANTO DAN ASEP BAYAT: KEHADIRAN POST-ISLAMISME DALAM BINGKAI BUDAYA POPULER DI INDONESIA

Oleh : Fairuz Arta Abhi Praya

(Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Seorang penjual buku yang memiliki sebuah “kegilaan” terhadap kajian politik identitas pernah beberapa kali menarik perhatian saya terhadap fokus studinya menegenai hubungan integral antara islam dan modernitas budaya populer dalam bingkai personifikasi identitas beberapa remaja di Indonesia. Saya pribadi mencoba untuk sangat berhati-hati untuk mendiskusikan perihal fenomena ini, mengingat bahwasanya agar tidak ada pemahaman yang bias serta hasil dari proses salah tangkap untuk memahami sedikit kajian politik identitas dalam tulisan ini.

Sebelum membahas lebih mendalam mengenai pokok bahasan yang ada ditulisan ini, alangkah lebih berimbangnya jika kita (termasuk penulis) untuk memahami definisi dasar dari fenomena Islamisme itu senditi.  Merujuk pada tulisan Ariel Heryanto dalam bukunya yang berjudul Identitas dan Kenikmatan; Politik Budaya layar Indonesia[1], definisi mendasar mengenai konsep islemisme sendiri adalah sekumpulan gerakan sosial yang berupaya untuk menerapkan ajaran islam dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dalam lingkup seluas mungkin, termasuk pada aspek hukum yang bersifat syariah sebagai dasar pemerintahan sebuah negara.

Sedikit bernostalgia bagaimana ideologi yang berlawanan terhadap pancasila dihantam habis, termasuk juga dengan fenomena islamisme yang sempat meredup di era pemerintahan otoriter mantan presiden soeharto dibalik ideology hyper-nasionalisme yang selalu di disebar luaskan (bahkan merabah sampai sentimen anti-cina). Gerakan islamisme mulai marak diusung kembali pasca jatuhnya rezim otoriter dan dimulainya era reformasi pada tahun 2000-an, ditandai dengan gerakan kelompok islam yang hadir dengan mengibarkan simbol identitas, ajakan yang massif dan berbagai munculnya gerakan identitas teologis dalam bingkai kebebasan demokrasi.

Gerakan islamisasi telah menemukan bingkai rancanganya sendiri untuk menembus batasan-batasan dan isi dalam pergulatan ideologi di Indonesia pasca order baru, Padahal gerakan-gerakan semacam itu pernah ditekan begitu kerasnya pada era orde baru dan meninggalkan luka tersendiri.

Namun sebuah hal yang perlu digaris bawahi adalah menguatnya politik identitas (dalam konteks ini adalah islamisme) bukan serta-merta terjadi karena jatuhnya soeharto dan kebangkitan reformasi saja, berpindahnya haluan soeharto untuk menyikapi kembali kelompok islam dalam roda pemerintahanya menjelang akhir jabatanya pada 1990-an, juga turut menyumbang upaya penguatan politik identitas, meskipun era reformasi adalah pusat dari menguatnya politik identitas dalam sejarah Indonesia.

Ariel Heryanto 1secara lugas memaparkan perjalanan proses penguatan politik identitas di Indonesia dari mulai order baru hingga reformasi, tegasnya pada pertengahan 1980-an pelajar prempuan dihukum karena menggunajakan hijab di seklah sekuler, pada tahun 2003 beberapa daerah di Indonesia mulai memperkenalkan konsep syariah yang menghukum pelajar prempuan yang tidak menggunakan hijab dan pada tahun 2003 sebuah kelompok teater terkenal bernama teater koma terpaksa menghapus beberapa naskah yang memiliki kesan guyonan terhadap kelompok islam. Islamisme mulai mampu menembus batasan-batasan yang sudah lama terkubur pada masa pemerintahan otoriter.

Sampai mahakarya film terbesar dan tersukses yang turut membantu agenda proses post-islamisme yaitu film ayat-ayat cinta pada tahun 2008, juga dituding sebagai upaya memperkenalkan islam ke khalayak publik dalam bingkai budaya populer.

Film yang bertemakan islami ini menggunakan latar belakang timur tengah dengan menggambarkan sosok keislaman para aktornya, dan di akhir film ini menggambarkan tentang kesuksesan islam sebagai sebuah identitas yang sedang digandrungi banyak remaja. Berbagai film bertemakan islam yang menggambarkan tentang puncak kesuksesan dari seseorang adalah mengenai bertaubat, masuk islam, menjadi muslim yang sesungguhnya, popularitas dan sukses dalam hal kapital.

 Namun dari berbagai deretan film bernuansa islami, film ayat-ayat cinta masih menjadi idola berbagai kalangan khususnya remaja dalam menyikapi sebuah film bernuansa islam,  kemunculan film ini juga memulai sebuah konsep budaya populer remaja islam di Indonesia yang menjadi salah satu pendorong kemunculan post-islamisme.

Sedikitnya Asep Bayat[2] telah memberikan penjelasan mengapa post-islamisme dimulai dari sebuah gerakan demokratisasi, Bayat memamparkan bahwa post-islamisme muncul sebagai bahasa guna memunculkan rasa percaya diri sebuah kelompok, tujuanya adalah untuk memobilisasi massa kelas menengah yang merasa kalah dalam dominasi politik, ekonomi serta budaya ditengah kekosongan ideology sebuah bangsa. Dan menurut mereka kekosongan ideology ditengah kegagalan kapitalisme dan utopia sosialisme yang sedang merebak, mampu di isi dengan kajian agama (moralitas) sebagai pengganti kendaraan berpolitik.

Asef Bayat[3], adalah seorang ilmuwan sosial yang meneliti mengenai fenomena serupa di Iran, dalam karyanya yang berjudul The Coming of a Post-Islamist Society, Critique: Critical Middle East Studies, Bayat berhasil menjelaskan bahwa kemunculan pendakwah baru menjadi faktor bangkitnya post-islamisme, selama berabad-abad sebelumnya kelompok pendakwah telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mempelajari kajian agama secara sangat serius didalam institusi pendidikan agama seperti pesantren maupun sekolah formal islam di timur tengah.

Namun kehadiran kelompok pendakwah baru turut menggeser keberadaan mereka dimata para remaja, tampilan yang begitu mentereng bak “millenialistik” serta materi kajian yang terkesan ringan dan tidak jauh dari pembahasan pernikahan, pertemanan dan pekerjaan. Bahkan tak jarang kebanyakan dari kelompok pendakwah baru ini hadir bukan karena latar belakang pendidikan agama mereka, melainkan Karen kemampuan komunikasi, berpidato, busana serta kemampuan dalam memaksimalkan media baru.

Kelompok pendakwah baru berhasil memuaskan dahaga para remaja yang mencoba mencari sebuah jalan pintas untuk belajar hal-hal teologis agama, dengan berbagai kelebihan yang telah disebutkan diatas maka sangat wajar jika kelompok pendakwah baru mampu menjangkau seluruh kalangan remaja, para pemburu popularitas dan pemburu kekayaan. Sedangkan untuk para kelompok pendakwah tradisional hal ini menjadi sebuah tantangan baru dalam era demokratisasi dan pertarungan ideology, bahkan remaja Indonesia tidak mengenal kyai sepuh dari NU dan Muhammadiyah.

Hari ini kita dapat melihat bagaimana banyak pendakwah baru yang muncul dalam menyerukan hijrah massal, dan hal ini telah banyak diikuti oleh para remaja Indonesia karena kelebihan-kelebihan yang telah dimiliki oleh para pendakwah baru. Namun hasil dari ‘hijrah’ masal tersebut memiliki implikasi serius dalam menghasilkan remaja yang tidak bias meninggalkan sikap konsuptif terhadap apa yang selama ini mereka kerjakan.

Sebagai contoh seorang remaja prempuan yang memutuskan untuk hijrah dan mengikuti syariat-syariat islam dengan getol, namun tetap saja mereka memiliki kefanatikan terhadap boyband korea. Contoh selanjutnya adalah bagaimana remaja prempuan hijrah masih memandang kontes kecantikan prempuan muslim berjilbab sebagai puncak kesuksesan seorang muslimah, contoh lain ada juga yang mengikuti makeup artist khusus pengguna hijab untuk mempercantik diri sendiri.

Hal ini mengindikasikan bahwa ada sebuah kegundahan massal antara remaja yang ingin mengeksplorasi islam secara besar-besaran, namun di sisi lain mereka tidak ingin kehilangan budaya populer modern yang selama ini mereka kerjakan. Sebenarnya yang menjadi sebuah inti pertanyaan adalah siapa yang menciptakan standar kecantikan untuk para remaja berhijab?

Perpaduan antara islamisme dengan budaya populer yang menghasilkan fenomena post-islamisme telah merangsang para agent kapitalisme untuk terus menciptakan produk-produk dengan tujuan dikonsumsi oleh para remaja hijrah. Hal ini merupakan implikasi khusus bahwa ada sebuah keberhasilan para agent kapitalisme dalam bentuk produk kecantikan untuk menciptakan standar kecantikan bagi para muslimah Indonesia, dan akhirnya ini merupakan sebuah bentuk keberhasilan kapitalisme dalam upaya menjinakan islam itu sendiri.

Menurut Heryanto, Hal-hal tersebut juga didukung oleh menyusulnya para agent of halal yang menawarkan produknya dengan tujuan memuaskan rasa konsuptif remaja post-islamisme di Indonesia. Para actor Agent of Halal tersebut bias dikatakan sebagai para public figure yang secara tiba-tiba hijrah dengan cara mengekspresikanya di ruang public, contoh saja bagaimana Teungku Wisnu sudah merubah penampilanya secara total pasca berhijrah.

Produk-produk yang ditawarkan bias berupa kosmetik, jasa, barang sampai dengan bank-bank berlabel syariah yang sengaja di promosikan oleh para agent of halal disegala segmen. Eksploitasi islam secara brutal melalui media baru juga turut membangkitkan bentuk post-islamisme di Indonesia, media baru yang berperan sebagai alat promosi serta menyebar luaskan dakwah merupakan bentuk yang paling mutakhir era modern dalam mengisi kekosongan ideology sebuah bangsa.

Namun hal pokok yang menjadi pertanyaan adalah, apakah tingkat ketakwaan para remaja muslim di era post-islamisme dengan gaya konsumtif pendakwah baru, agent of halal dan produk-produk keberhasilan kapitalisme memiliki implikasi serius kepada tingkat ketakwaan mereka? Atau hanya sebagai pelengkap dalam mengisi kekosongan ideology sebuah bangsa? Mari kita diskusikan.


[1] Heryanto, A. (2014). Identitas dan Kenikmatan; Politik Budaya Layar Indonesia

[2] Bayat, Asef. (2990). The Coming of a Post-Islamist Society, Critique: Critical Middle east Studies.

[3] Bayat, Asef. (2990). The Coming of a Post-Islamist Society, Critique: Critical Middle east Studies.

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.