INDONESIA SIAGA NASIONALISME

Oleh: Hafidz Nur Ockta Kustiyanto

Peringatan Hari Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya tinggal menghitung hari, seluruh rakyat Indonesia menyambut dengan gembira. Aroma nasionalisme sangat terasa kental di seluruh penjuru Nusantara, namun apa yang terjadi jika Agustus telah pergi??? Apakah aroma Nasionalisme masih kuat terasa???

Sudah tidak lagi menjadi rahasia umum khususnya bagi kita warga negara Indonesia yang tinggal di Negara ini, apalagi bagi yang lahir, tinggal, dan tua di Indonesia mengenai lunturnya rasa nasionalisme kita terhadap bangsa kita sendiri. Hal itu dapat dilihat dari sikap kita terhadap banyaknya fenomena yang terjadi di bangsa ini, seperti kita tidak peduli dengan pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang ingin merusak pancasila sebagai ideologi sekaligus pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nasionalisme ini sebenarnya bermakna sangat luas, namun masih menjadi ironi karena banyak yang hanya memandang nasionalisme sebelah mata bahkan dengan mata buta apalagi hati yang mati. Misalnya mencintai dan menggunakan produk lokal, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan melawan semua paham yang bertentangan dengan pancasila di Indonesia.

Sosialisasi dari keluarga sebagai aktor pertama dalam membina generasi bangsa sangatlah penting untuk memupuk rasa cinta tanah air, ditambah lembaga formal seperti pendidikan, masyarakat, dan sebagainya. Karena dengan seperti itu generasi muda akan memiliki bekal nasionalisme dalam menghadapi arus tantangan global.

Fenomena yang paling tampak saat ini adalah hedonisme atau perilaku konsumtif berlebihan juga westernisasi atau gaya kebarat-baratan, hal ini sudah sangat jelas terlihat bagaimana banyak di antara kita yang lebih suka menggunakan produk asing apalagi sudah enggan dan gengsi dengan produk lokal. Kemudian juga hilangnya rasa solidaritas empati sesama, kita sudah tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi pada saudara kita, hanya mementingkan ego dan kepentingan khusus sampai mengorbankan orang lain.

Remi dalam kampanye persatuan mencontohkan perilaku masyarakat dulu yang lebih menerima pluralisme yang terlihat dari perdamaian antaragama dan ras sehingga terwujud keanekaragaman agama dan budaya seperti yang kita kenal saat ini. ”Jika dibandingkan dengan masyarakat sekarang yang kerap mudah terprovokasi hingga terpecah hanya karena berita hoaks, fenomena ini sungguh tidak merepresentasikan Indonesia yang sesungguhnya.”

Kabid Humas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara Silaturahmi dan Pembinaan Netizen pada hari Jumat, 9 Agustus 2019 menuturkan dan meminta seluruh masyarakat agar tetap menjaga pancasila yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan kita, di mana Pancasila ini sudah sangat tepat dengan kondisi bangsa Indonesia yang majemuk dan plural agar tetap terjaga persatuan dan kesatuan kita. Jika bangsa lain ingin belajar pancasila kepada kita untuk menjaga kemanan negaranya, Bagaimana dengan kita sebagai tuan rumah pemiliknya??? Apa yang sudah kita berikan pada bangsa ini??? Apakah nasionalisme kita sudah baik???

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.