PASCA PEMILU 2019, PARTAI POLITIK BISA APA?

Oleh : Azka Abdi Amrurobbi, S.IP

(Sekretaris Umum Komite Independen Sadar Pemilu)

Pemilihan Umum Serentak 2019 telah hampir usai dilaksanakan, Komisi Pemilihan Umum telah resmi mengumumkan perolehan suara yang diterima baik oleh paslon 01 Jokowi-Ma’ruf dan paslon 02 Prabowo-Sandi, hingga perolehan suara tiap-tiap partai politik. Dalam hasil real count KPU pasangan 01 Jokowi-Ma’ruf memperoleh suara 85.607.362 (55,50%), sedangkan pasangan 02 Prabowo-Sandi memperoleh 68.650.239 (44,50%) suara. Namun, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi melakukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) yang menganggap bahwa telah terjadi kecurangan pada Pemilihan Umum Serentak 2019 kemarin.

Siapapun nanti yang akan menjadi Presiden Republik Indonesia pasca penetapan dan pengangkatan Presiden terpilih harapannya bagi partai politik tetap harus menunjukan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Baik elite partai politik, tim pemenangan, hingga calon-calon legislatif diharapkan  mampu menghentikan narasi-narasi yang bisa memecah belah masyrakat, jangan sampai negara ini mengarah kepada kakistokrasi (Kakistos=buruk, Kratos=pemerintah) ketika politik didominasi oleh perilaku-perilaku buruk dan kasar.  Selain itu partai politik harus mampu melakukan rekrutmen politik yang baik, bersih, dan bertanggung jawab dalam proses pengisian jabatan-jabatan politik selanjutnya. Jangan sampai partai politik gagal dalam mencari potensi-potensi kader baru dan akhirnya tidak sedikit  dalam partai politik diisi oleh mantan-mantan terpidana kasus korupsi bahkan hingga mereka mencalonkan kembali dalam kontestasi politik. Terakhir partai politik juga harus mampu memberikan edukasi atau pendidikan bagi masyarakat yang efektif, efisien dan masif. Biasanya pasca pemilihan umum, peran partai politik ditengah masyarakat tidak lagi dirasakan keberadaannya, bak hilang ditelan bumi. Peran partai politik saat ini seperti petani musiman yang hanya melakukan kegiatan penanaman tumbuhan (masa kampanye), lalu setelah tumbuhan tersebut berbuah ia langsung memanennya (hari pemungutan suara) dan menunggu musim tanam tiba kembali (pemilu 5 tahunan). Banyak masyarakat menganggap bahwa jika partai politik telah terlihat aktifitasnya berarti pesta demokrasi (pemilu) sudah didepan mata.

Padahal sudah jelas bahwa partai politik harus mampu berperan, Pertama sebagai Sarana Komunikasi Politik, yaitu partai politik harus mampu menyalurkan aspirasi-aspirasi masyarakat ditengah-tengah keberagaman pendapat dan aspirasi yang ada; Kedua sebagai Sarana Sosialisasi Politik, yaitu partai politik harus mampu berinteraksi, berkomunikasi dan mendidik masyarakat; Ketiga Sarana Rekruitment Politik yaitu sebuah peran partai politik diamana parpol mempersiapkan dan menghimpun kader-kader yang sesuai dengan tujuan partai politik tersebut; Keempat Sarana Pengatur Konflik yaitu partai politik harus mampu mengatasi konflik ditengah masyarakat yang berbeda-beda dan mampu memberikan cerminan-cerminan positif yang mampu diikuti oleh masyarakatnya. (Budiardjo, 2008)

Itulah beberapa hal yang bisa partai politik lakukan pasca pemilihan umum ataupun menjelang pemilu berikutnya berlangsung. Harapannya partai politik harus tetap memperlihatkan eksistensinya ditengah masyarakat, karena partai politik lah salah satu sarana yang dapat mengartikulasikan kepentingan-kepentingan masyarakat Indonesia yang beragam.

Refernsi

Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.