IDUL FITRI DAN MOMENTUM REKONSOLIASI SOSIAL PASCA PEMILU 2019

Oleh : Muhammad Iqbal Khatami

Koordinator Divisi Media dan Komunikasi Komite Independen Sadar Pemilu

            Tingkat Partisipasi pemilih pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mencapai angka 80%, sebuah capaian yang patut diapresiasi karena jauh meningkat dibanding Pemilu 2014 yang hanya 70%. Namun, capaian ini tidak menjadi tolak ukur bahwa Pemilu 2019 benar-benar berjalan sebagaimana mestinya. Pemilu 2019 masih menyisakan banyak PR besar salah satunya adalah semakin menajamnya pergesekan horizontal dan polarisasi antar pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden hingga menjadi konflik yang berkepanjangan bagi bangsa Indonesia.

            Memasuki masa Pasca Pemilu 2019, ruang-ruang sosial media kita masih banyak disibukkan dengan hujatan, hinaan, dan cacian antar pendukung hingga membuat banyak di antara kita muak dengan ruang-ruang sosial media yang seharusnya menjadi ruang berdiskusi yang asyik untuk membahas berbagai hal. Hal ini menandakan bahwa nilai-nilai keharmonian, kesatuan, dan persatuan yang seharusnya menjadi harga mati bagi bangsa yang multikultur seperti Indonesia sudah mulai tergerus; bahkan dengan hal yang sepele.

            Polarisasi yang terjadi hari ini menjadi persoalan yang cukup rumit karena menyangkut banyak aspek isu seperti sosial, politik dan budaya hingga identitas yang turut menjadi bara dalam konflik horizontal ini. Kompleksnya permasalahan ini menjadi PR bagi kita bersama dan menjadi ujian kita dalam menjalankan demokrasi. Maka. kedewasaan setiap orang dalam menyikapi permasalahan politik hari ini sangat diperlukan sebagai ikhtiar meredam konflik berkepanjangan ini.

Urgensi Rekonsoliasi Sosial

            Tidak dapat dipungkiri, suhu politik pasca Pemilu justru semakin memanas dan menajam. Konflik yang semakin memuncak pada hari ini merupakan hasil akumulasi konflik-konflik polarisasi antar paslon yang sudah terjadi sejak 2014, karena Pemilu 2014 mempertarungkan dua kandidat yang sama. Puncak dari konflik ini bisa kita lihat ketika terjadi kericuhan pada aksi damai 22 Mei lalu, banyak pihak yang dirugikan akibat kericuhan yang tidak diinginkan pada aksi ini hingga ada yang kehilangan nyawa.

            Tentu sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan kita tidak ingin ada terjadi puncak-puncak konflik lain yang lebih tinggi dan lebih panas. Secepat mungkin diperlukan upaya untuk segera meredam konflik ini; yaitu melalui rekonsoliasi sosial. Maksud rekonsiliasi disini adalah memulihkan hubungan menjadi kembali normal antara kedua pasang kandidat, tim sukses, simpatisan dan masyarakat luas setelah proses politik yang membelah masyarakat. Semua perseteruan, konflik, pertikaian harus diselesaikan dalam sebuah rekonsiliasi nasional.

Rekonsiliasi harus dilakukan dengan menimbang masa kampanye hingga masa pasca Pemilu yang saat ini dilalui telah dipenuhi oleh polemik dan perseteruan antara dua pendukung kandidat. Pada tataran akar rumput, konflik sudah merabah hingga pada konflik fisik. Fitnah dan umpatan yang sangat keras juga dengan mudah juga ditemui di media massa dan media sosial.

Idul Fitri sebagai Momentum Merajut Persatuan

            Selama 30 hari ibadah puasa di Bulan Ramadhan syarat akan hikmah dan pelajaran yang harus dipetik bagi umat Islam. Setiap orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadan sesuai tuntunan akan melahirkan seseorang yang dalam kesehariannya seperti pelita diwaktu gelap dan air di waktu dahaga. Maka, kita wajib menteladani hikmah berpuasa untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan bersinergi antar pihak demi menjaga kestabilan dan menjawab permasalahan di masyarakat. Hingga tibalah di ujung Bulan Ramadhan kita dipertemukan dengan Idul Fitri yang menjadi ajang untuk saling memaafkan satu sama lain dan menjaga serta merajut kembali silaturahmi yang terjalin.

            Dengan demikian, Idul Fitri pada Tahun 1440 Hijriah/2019 Masehi ini menjadi momentum yang tepat untuk Bangsa Indonesia menyusun kembali harmoni-harmoni persatuan yang sempat terpecah belah dan mengentaskan polarisasi yang semakin tajam ini. Hikmah religius yang dibawa oleh momentum Ramadhan dan Idul Fitri dapat menjadi nilai perekat, tak hanya bagi sesame muslim, tetapi juga dengan yang memiliki keyakinan berbeda.

            Sebagaimana disebutkan sebelumnya, diperlukan kedewasaan semua pihak dalam menyikapi permasalahan politik hari ini. Pertama, kedewasaan Para elit dan tokoh politik diperlukan untuk menjadi contoh. Para elit politik diharapkan juga mampu menjalin komunikasi antarpihak sebagai pencair suasana untuk tatanan grassroot. Terkadang, masyarakat kita masih mudah tersulut dengan statement dan prilaku dari elit politik yang disampaikan melalui media. Maka, sangat diperlukan contoh tauladan harmoni persatuan oleh elit politik secara langsung sebagai sulutan positif bagi masyarakat dan menjadi peredam konflik.

            Kedua, masyarakat kita yang hari ini sangat aktif di ruang-ruang maya juga diharapkan mempunyai kedewasaan yang baik dalam berselancar di dunia maya. Banyak dari kita yang sangat mudah terprovokasi oleh akun-akun buzzer di sosial media dan akhirnya ikut memprovokasi; hingga ini terjadi terus menerus dan menjadi lingkaran konflik yang kompleks dan berkepanjangan.

            Lajunya arus informasi hari ini memang menjadi salah satu faktor mudahnya kita diprovokasi oleh isu-isu yang bertebaran dan tidak sedikit yang menjadi kompor atas panasnya konflik ini. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah membentengi diri kita masing-masing sebagai wujud kedewasaan kita bermedia sosial dan mengingatkan orang di sekitar kita untuk lebih bijak bermedia sosial.

            Sehingga, momentum Idul Fitri bisa benar-benar kita maknai secara positif. Jangan sampai permusuhan kita dengan orang di sekitar atau bahkan dengan orang yang tidak dikenal di sosial media akibat perdebatan Pemilu 2019 justru menjadi batu sandungan atas segala amal ibadah kita selama Bulan Ramadhan.

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.