Menengok Trend Remaja Hijrah Perkotaan

Oleh: Fairuz Arta Abhi Praya

(Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Pegiat KISP)

Maraknya fenomena trend remaja hijrah di indonesia turut menyumbang kebingungan massal bagi para ilmuwan sosial di Indonesia atau bahkan sampai manca negara. Sebenarnya apa sebab meningkatnya ketakwaan secara drastis dari para remaja Indonesia yang mengenyam pendidikan di institusi sekuler, saya tidak akan menafikan istilah “hidayah datang tidak mengenal tempat dan waktu”. Namun sebuah hal yang akan menjadi fokus dari tulisan ini adalah mengenai trend remaja hijrah yang sedang marak di Indonesia serta menggali korelasinya dengan para santri muslim tradisional.

Berbicara mengenai trend remaja hijrah yang sedang marak terjadi di Indonesia, dalam konteks ini saya akan meminjam istilah dari Dian Dwi Jayanto seorang Santri Jebolan Pesantren Tambak Beras di Jombang Jawa Timur. Dian menjelaskan bahwa fenomena ini lebih cocok disebut dengan sebuah proses ‘islamisasi’, yang artinya bahwa ada sebuah proses dimana para remaja Indonesia mencoba untuk mengeksplorasi islam secara brutal dan mencoba menunjukanya di ruang publik dengan penuh suka cita. Proses eksplorasi tersebut terkadang menjumpai banyak hal yang sebenarnya bukan bagian dari islam sendiri tetapi mereka mencoba membalutnya dengan balut khas keislaman, sehingga terjadi sebuah peng-kaburan tujuan islam itu sendiri.

Saya mencoba dengan hati-hati untuk tidak berbicara mengenai hal yang saya tidak mengerti. Melihat bagaimana banyak remaja menggunakan istilah ‘Hijrah’ untuk menunjukan kepada publik bahwa mereka sudah berubah, ‘dari yang dulunya buruk menjadi lebih baik’ sudah sedikit membuktikan menganai apa yang telah disampaikan oleh Dian. Penghapusan gambar-gambar pribadi di sosial media yang pada saat itu belum menurut aurat dan menggantinya dengan beberapa karikatur kartun wanita Muslimah, membagikan beberapa video dakwah online dari uztad-uztad yang terkenal di jagat maya seperti Hanan Attaki, membagikan quotes dan potongan arti ayat yang terkesan islami, berpakaian syar’i seperti krudung longgar serta celana cingkrang, mengubah beberapa istilah Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab dan mencoba menafsirkan segala hal dengan kacamata agama merupakan sebuah bentuk islamisasi para remaja Indonesia saat ini atau lebih lazim disebut dengan ‘hijrah’. Tentu semua hal yang saya sebutkan diatas belum melalui proses pesantrenisasi, dalam artian dimana remaja yang belajar islam melalui media ‘instan’.

Hal yang menjadi pertanyaan besar bagi saya adalah mengapa banyak fenomena trend hijrah justru terjadi dikalangan masyarakat menengah atas perkotaan yang sangat mudah untuk mengakses berbagai informasi, sedangkan untuk masyarakat menengah kebawah desa yang tidak terlalu terbuka terhadap akses informasi sangat jarang saya menjumpai trend hijrah yang ramai diikuti oleh remaja perkotaan. Contoh kongkritnya adalah saya lahir di sebuah desa kecil di suatu daerah di Indonesia dan saya sangat jarang sekali bahkan terhitung belum pernah melihat trend hijrah di tempat kelahiran saya, ketika saya pergi untuk berkuliah di kota besar justru saya sangat sering menjumpai beberapa remaja yang memberi label dirinya bahwa mereka sudah hijrah dan menjadi lebih baik.

Kemudahan informasi untuk di akses merupakan penyebab dari kejadian ini, masyarakat menengah atas perkotaan akan mudah untuk mengakses informasi mengenai dakwah online dari uztad-uztad yang memberikan materi yang terkesan ringan untuk para remaja sehingga materinya sangat mudah diterima oleh para remaja. Biasanya materi yang diberikan tidak akan berupa fiqih ataupun materi yang terkesan berbobot lainya, melainkan akan berupa trend-trend remaja pada saat ini berupa cinta, pertemanan, bagaimana bertaqwa dan materi ringan lainya, bahkan biasanya hal yang sangat diminati oleh para remaja adalah kajian mengenai cinta, ta’aruf dan pernikahan.

Berbeda dengan remaja menengah kebawah desa yang bisa dikatakan lumayan sulit untuk mengakses informasi, bagaimana caranya memperoleh materi dakwah online, sedangkan sangat jarang remaja desa yang memiliki smartphone dan akses internet. Materi agama yang banyak mereka peroleh biasanya bersifat kultural turun-temurun dari orang tua mereka, terkadang lebih banyak orang tua yang menitipkan anak remajanya di pondok pesantren tradisional untuk memperdalam ilmu agama. Hal ini membuat kualitas materi yang diterima oleh mereka sudah pasti akan berbeda dengan kelompok hijrah di perkotaan, materinya akan sangat berbobot berbicara maslaah fiqih, hadist, tafsir dan berbagai materi berbobot lainya.

Namun yang jadi pertanyaan besar adalah mengapa para remaja desa sangat jarang sekali menunjukan sisi identitas keislaman mereka di khalayak publik? Padahal ilmu agama yang mereka peroleh jauh lebih berbobot ketimbang kelompok hijrah yang bisa dikatakan mengkonsumsi ilmu-ilmu agama dari media instan. Kembali kepada pendapat Dian (2018) dalam bukunya yang berjudul “Antara Hijrah, Pesantren dan Pembekuan Identitas” khususnya pada bab ‘mengapa jebolan pesantren terkesan kurang ‘islami’ dibanding kelompok islam baru?’. Bahwasanya kelompok remaja pesantren merasa keadaan keislaman mereka masih sangat baik-baik saja, sehingga ketika mereka keluar dari pesantren dan mengenyam pendidikan di institusi sekuler maka mereka tidak perlu menunjukan sisi keislaman mereka pada publik sehingga mereka masih memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat sekuler. Bahkan tak jarang banyak jebolan pesantren yang justru menjadi aktivist feminism, HAM dan lain sebagainya.

Namun berbeda dengan kelompok trend Hijrah yang sedang marak di kalangan remaja pada saat ini. Mereka masih merasa tingkat keislaman mereka sangat rentan untuk digoyahkan, sehingga mereka berpikir bahwasanya masih perlu menunjukan identitas keislaman yang mereka miliki di khalayak publik. Sekaligus dengan menunjukan identitas hijrah yang mereka miliki, akan berimplikasi pada pembentukan proteksi bagi diri mereka sendiri dalam bentuk sebuah pembelaan religius dengan menciptakan ‘gap’ antara yang hijrah dan belum hijrah. Penunjukan identitas tersebut dapat terlihat dalam perilaku mereka yang selalu menggunakan tafsir ayat dan hadist dalam setiap pendekatanya di kehidupan sosial, antar teman, keluarga bahkan sampai guru.

Sebuah kritik besar yang telah disampaikan oleh Dian (2018) , mengenai santri adalah jangan sampai para jebolan pesantren yang belajar agama sangat serius didalam ponpes dulunya kini kehilangan jiwa-jiwa keislaman yang telah melekat lama pada diri mereka. Jangan hanya karena merasa keislamannya sudah kokoh dan mulai menabrak rambu-rambu agama yang sebenarnya tidak boleh untuk dilanggar. Contohnya menjadi activist HAM dan membela LGBT yang sudah jelas dilarang oleh Agama.

References

Jayanto, D. D. (2018). Antara Hijrah, Pesantren dan Pembekuan Identitas. Yogyakarta: AE Publishing.

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.