MEMBANGUN NARASI PERDAMAIAN PASCA PEMILU 2019

Oleh: Asep Tantan Permana

(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung/ Pimpinan Cabang IMM Kota Bandung)

Pemilihan Umum (PEMILU) adalah salah satu cara dalam sistem demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga perwakilan rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga negara di bidang politik. Pemilu dilaksanakan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. Sebab, rakyat tidak mungkin memerintah secara langsung. Karena itu, diperlukan cara untuk memilih wakil rakyat dalam memerintah suatu negara selama jangka waktu tertentu. Pemilu dilaksanakan dengan menganut asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Proses tahapan pemilu yang cukup panjang pun menjadi momen tersendiri bagi calon-calon terpilih. Diantaranya pada masa-masa kampanye yang seringkali melibatkan beberapa elemen masyarakat dari masing masing calon (tim sukses) untuk memenangkan calon tersebut pada konstelasi politik pemilu 2019. Narasi-narasi yang diciptakan oleh  masing-masing tim kampanye seringkali menimbulkan gejolak sosial-politik di lingkungan masyarakat. Secara tidak langsung kampanye-kampanye yang identik dengan berbagai macam narasi pun mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Dalam beberapa kasus memang kadang kita melihat adanya narasi yang tidak sehat.

Penggunaan cara-cara radikal yang barangkali karena adanya salah paham atau sebab lain kadang terjadi. Meski demikian, jumlahnya relatif kecil. Proses politik di Indonesia sejauh ini masih dapat dibilang wajar dan sejalan sebagaimana mestinya. Meski sekali lagi, kadang juga kita temui adanya narasi negatif (kampanye hitam) yang mempengaruhi masyarakat. Rentannya konflik yang terjadi akibat adanya narasi yang tidak sehat tersebut sangat disayangkan. Indonesia yang terdiri dari berbagai agama dan suku bangsa menjadi sebuah kekhawatiran. Embrio-embrio konflik menjelma menjadi narasi pemecah belah dalam konstelasi pemilu 2019 yang telah kita lewati bersama. Banyak orang yang merasa benar dan sangat yakin dengan narasi mereka, berupaya membangun opini di masyarakat secara permanen. Efek domino dari narasi negatif itu pun bisa kita sama-sama rasakan. Tensi konflik identitas semakin meningkat seakan terus memuncak dan siap meledak sewaktu-waktu. Penting sekali adanya upaya dari generasi-generasi muda membangun upaya preventif dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia. Bijak dalam berpikir, bertindak, dan bersikap atas segala situasi dan kondisi yang bergejolak pasca pemilu 2019. Dalam hal ini, pendidikan perdamaian menjadi tugas bersama yang perlu dilakukan oleh para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun organisasi masyarakat. Generasi milenial sebagai agen perdamaian menjadi aktor penting dalam membangun narasi-narasi perdamaian di masyarakat, terutama pasca pemilu 2019. Rentannya konflik identitas semakin besar dengan bekembangnya berbagai narasi-narasi negatif. Generasi milineal sebagai cikal bakal masa depan bangsa ini kedepannya, menjadi harapan kita bersama. Berasal dari beragam identitas keagamaan dan kesukuan berkumpul bersama untuk membangun pengertiaan bersama akan pentingnya makna keberagaman, tenggang rasa, berbagi kasih, dan toleransi. Dengan menerapkan narasi perdamaian sejak dini menghendaki generasi milineal dapat menjaga stabilitas kehidupan sosial-politik. Terutama pasca pemilu 2019 yang sangat rentan dengan narasi-narasi negatif berupaya untuk memecah belah bangsa ini. Kita yakini bersama bahwa perdamaian dapat kita lakukan dalam berbagai situasi dan kondisi, tidak memandang kondisi apapun. Baik itu sedang pemilu, pasca pemilu ataupun sedang tidak ada pemilu. Narasi perdamaian masih tetap bisa kita kembangkan dan pegang teguh dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini. Negara ini akan terus berkembang dengan keragamannya dan akan tetap teguh dengan perdamaiannya.

Referensi:

Fatimah, Siti. 2018. Kampanye sebagai Komunikasi Politik: Esensi dan Strategi dalam Pemilu. Resolusi Vol. 1(1): 5-16

Fakih, Abdullah. 2018. Membangun Perdamaian. Jakarta: MAARIF Institute for Culture and Humanity

Follow and Visit Us
Share it
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
INSTAGRAM
GOOGLE

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Anonim berkata:

    Mantappp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.